Jumat, 20 Desember 2013

Sahabat Bangsat!!!


Sudah hampir 5 tahun aku bersahabat denganmu. Yah. Malboro merah! Ciri bau yang khas antara perpaduan nikotin dan tar sudah sangat ku hafal. Asapmu yang putih agak kecoklatan sudah menggantikan oksigen di hari-hariku. Bahaya memang. Tapi.. aku sudah terpikat denganmu. Pagi, siang, sore, dan malam kau selalu temaniku tanpa henti. Di saat suka maupun duka.

Asapmu juga telah menyelimuti paru-paru ku. Dan membentuk flek seperti embun pagi yang abdi. Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan? Apakah kau ingin melindungi paru-paruku apakah kau ingin menghancurkan paru-paruku? Sudah jelas kau ingin merusaknya. Tapi sampai kapan persahabatan ini akan terjalin? Semoga persahabatan ini akan tetap ada dan tak ada yang namanya sahabat bangsat!!!

Rambut Gimbal.


Mungkin tidak asing lagi bagi kalian dengan rambut gimbal. Yah. Rambut yang berbentuk seperti sumbu kompor. Satu rambut yang di satukan dengan rambut lainnya yang di satukan tanpa etika yang jelas. Banyak yang bilang orang rambut gimbal seperti orang gila(rambut bagus2 digimbal),kotor, menjijikan, ribet. Rambut gimbal juga bukan bentuk dari premanisme dan pecandu obat-obatan(Narkotika). Tapi menurut-ku Rambut gimbal adalah seni. Jangan anggap remeh orang berambut gimbal, coba gimbal dulu, rasakan dan pelajari baru berargumen!

Rambut gimbal sudah dikenal sejak tahun 2500 SM. Sosok Tutankhamen, seorang fir’aun dari masa Mesir Kuno, digambarkan memelihara rambut gimbal. Demikian juga Dewa Shiwa dalam agama Hindu. Secara kultural, sejak beratus tahun yang lalu banyak suku asli di Afrika, Australia dan New Guinea yang dikenal dengan rambut gimbalnya. Dan di indonesia tepatnya Di daerah Dieng, Wonosobo hingga kini masih tersisa adat memelihara rambut gimbal para balita sebagai ungkapan spiritualitas tradisional. Membiarkan rambut tumbuh memanjang tanpa perawatan, sehingga akhirnya saling membelit membentuk gimbal, memang telah menjadi bagian praktek gerakan-gerakan spiritualitas di kebudayaan Barat maupun Timur. Kaum Nazarit di Barat, dan para penganut Yogi, Gyani dan Tapasvi dari segala sekte di India, memiliki rambut gimbal yang dimaksudkan sebagai pengingkaran pada penampilan fisik yang fana, menjadi bagian dari jalan spiritual yang mereka tempuh.

6 hari cukup.


Entah apa yang ada di benak kepalaku hingga ku menulis kan cerita ini, yang mungkin bagi pembaca sangat tak menarik.. Bagiku di semua hari senin,selasa,rabu,kamis,jum’at,sabtu dan minggu terdapat 1 hari yang sangat tragis! Kenapa di bilang tragis? Karena di salah satu hari itu terdapat hari yang buruk entah apa yang akan terjadi. Senin bagiku hari yang jahat! Bagaimana tidak sebelum hari senin terdapat hari sabtu dan minggu  hari yang sangat menyenangkan. Yang terlepas dari hari-hari efektif yang sangat menjengelkan. Setelah minggu usai senin pun tiba. Malas. Sungguh. Setiap hari senin ku sambut dengan sinis, andai saja aku bisa hapus hari senin dan Cuma ada 6 hari dalam satu minggu. Sungguh menyenangkan. Hari senin selalu malas tapi dalam kemalasan itu aku mencoba berlari secepat mungkin dengan imajinasiku yang tak sadar. Dari sore hingga malam aku berdoa cepatlah selasa datang..

khayal..


Bagai menggapai fatamorgana!
Bagai menembus cakrawala!
Bagai berdiri di dasar samudra!
Bagai menikmati sunset tanpa mata!
Bagai mendaki gunung tanpa kaki!
Bagai burung terbang tanpa sayap!