Mungkin tidak asing lagi bagi kalian dengan rambut gimbal.
Yah. Rambut yang berbentuk seperti sumbu kompor. Satu rambut yang di satukan
dengan rambut lainnya yang di satukan tanpa etika yang jelas. Banyak yang
bilang orang rambut gimbal seperti orang gila(rambut bagus2 digimbal),kotor,
menjijikan, ribet. Rambut gimbal juga bukan bentuk dari premanisme dan pecandu
obat-obatan(Narkotika). Tapi menurut-ku Rambut gimbal adalah seni. Jangan
anggap remeh orang berambut gimbal, coba gimbal dulu, rasakan dan pelajari baru
berargumen!
Rambut gimbal sudah dikenal sejak tahun 2500 SM. Sosok
Tutankhamen, seorang fir’aun dari masa Mesir Kuno, digambarkan memelihara
rambut gimbal. Demikian juga Dewa Shiwa dalam agama Hindu. Secara kultural,
sejak beratus tahun yang lalu banyak suku asli di Afrika, Australia dan New
Guinea yang dikenal dengan rambut gimbalnya. Dan di indonesia tepatnya Di
daerah Dieng, Wonosobo hingga kini masih tersisa adat memelihara rambut gimbal
para balita sebagai ungkapan spiritualitas tradisional. Membiarkan rambut
tumbuh memanjang tanpa perawatan, sehingga akhirnya saling membelit membentuk
gimbal, memang telah menjadi bagian praktek gerakan-gerakan spiritualitas di
kebudayaan Barat maupun Timur. Kaum Nazarit di Barat, dan para penganut Yogi,
Gyani dan Tapasvi dari segala sekte di India, memiliki rambut gimbal yang
dimaksudkan sebagai pengingkaran pada penampilan fisik yang fana, menjadi
bagian dari jalan spiritual yang mereka tempuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar