Rabu, 04 Juni 2014

Wawancara

Metode ini awalnya cukup sederhana. Wawancara adalah tanya jawab antara si pemeriksa dan orang yang diperiksa(Klien untuk psikologi klinik, responden untuk narasumber untuk peneliti, atau calon pegawai bagi psikolog perusahaan). Maksudnya adalah agar orang yang diperiksa itu mengemukakan isi hatinya, pandangan-pandangannya, pendapatnya dan lain-lain sedemikian rupa sehingga pewawancara dapat menggali semua informasi yang diperlukan. Pada kasus penelitian kualitatif, wawancara menjadi alat bantu dar metode observasi(Koentjaraningrat, 1977) wawancara yang baik memerlukan latihan yang banyak karena tidak mudah unruk membuka pintu hati seseorang dalam waktu singkat yang tersedia.
Ada beberapa teknik wawancara, yaitu:
  1. Wawancara Bebas, pertanyaan dan jawaban diberikan sebebas-bebasnya oleh pewawancara maupun yang diwawancara. Teknik ini digunakan misalnya dalam pskoterapi dan dikenal dengan asosiasi bebas(Free Asosiation), yang diperkenalkan oleh tokoh Psikoanalisis Sigmund Freud.
  2. Wawancara Terarah, dalam hal ini ada beberapa pokok yang harus diikuti pewawancara dalam mengadakan wawancara.
  3. Wawancara Terbuka, pertanyaan-pertanyaan yang sudah ditentukan sebelumnya, tetapi jawaban yang diberikan bebas, tidak terikat.
  4. Wawancara Tertutup, pertanyaan-peranyaan sudah ditentukan sebelumnya dan kemungkinan-kemungkinan jawaban juga sudah disediakan sehingga orang yang diperiksa tinggal memilih antara kemungkinan-kemungkinan jawaban itu, misalnya antara "ya" atau "tidak"atau antara "sangat setuju" dan "tidak setuju".
Dalam hal bentuk, wawancara bisa berbeda dari yang bentuk amat terstruktur(Mewakili bentuk yang lebih dekat  dengan kuesioner lisan), sampai wawancara berpola atau tertuntun mencakup bidang-bidang yang telah ditentukan sebelumnya, dan juga wawancara yang tidak terarah serta mendalam dimana wawancara terstruktur untuk maksud klinis dan riset pada bidang diagnosis psikiatris , sekarang sudah lazim dilakukan.  Instrumen-instrumen ini terstandarisasi dan umumnya memberikan skor kualitatif disamping klasifikasi diagnostik; dengan demikian, instrumen-instrumen ini dievaluasi  dengan standart psikometris yang sam dengan reliabilitas dan validitas yang berlaku unruk semua tes. untuk tinjauan atas protokol wawancara terstruktur, lihat Hodges dan Zeman(1993), Kamphaus dan Frick(1996, Bab 12), serta Rogers.

Fungsi Wawancara:
  1. Wawancara memberikan kesempatan untuk mengarahkan observasi atau sampel perilaku terbatas yang muncul selama wawancara itu sendiri.
  2. Memunculkan data riwayat hidup.
Pada wawancara membutuhkan keterampilan dalam mengumpulkan data dan menginterprestasikan data. Wawancara bisa melibatkan keputusan yang salah karena informasi yang penting tidak dimunculkan atau karena data yang diberikan tidak diinterpretasikan dengan memadai atau tepat. Kualifikasi kritis seorang pewawancara yang berhasil adalah kepekaan dalam mengidentifikasi isyarat-isyarat pada perilaku orang yang diwawancarai atau fakta yang ia laporkan. Isyarat-isyarat semacam tu membimbing kearah penyelidikan lebih jauh atas fakta-fakta lain yang mungkin mendukung atau menyangkal hipotesis semula.

Sumber:
Sarwono. S.W, 2010. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers.
Anastasi. A & Urbina. S. Tes Psikologi, Edisi keTujuh.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar