Rabu, 04 Juni 2014

Interpretasi Tes Psikologi



Interpretasi atau penafsiran adalah proses komunikasi melalui lisan atau gerakan antara dua atau lebih pembicara yang tak dapat menggunakan simbol-simbol yang sama, baik secara simultan(dikenal sebagai interpretasi simultan) atau berurutan(dikenal sebagai interpretasi berurutan). Menurut definisi, interpretasi hanya digunakan sebagai suatu metode jika dibutuhkan. Jika suatu objek(karya seni, ujaran, dll) cukup jelas maknanya, objek tersebut tidak akan mengundang suatu interpretasi. Istilah interpretasi sendiri dapat merujuk pada proses penafsiran yang sedang berlangsung atau hasilnya.

Kegunaan Interpretasi Tes Psikologi:
  1.  Awalnya pengetesan berguna untuk mengukur apa yang telah dipelajari individu dalam area tertent.
  2. Kemudian kegunaan tes berkembang untuk memprediksi. Bagaimana orang-orang yang berbeda memberikan respon pada situasi tertentu, sekarang atau dimasa yang akan datang. Bagaimana seseorang bereaksi dalam situasi-situasi khusus tertentu. 
Tujuan Interpretasi Tes Psikologi yang pada umumnya memang membantu dalam pengambilan keputusan berdasarkan informasi yang berkaitan dengan diagnosis diferensial, seleksi karir, rekomendasi penanganan tertentu, perencaan pendidikan, pengambilan keputusan pengasuhan anak, bersalah tidaknya seseorang dan banyak lagi masalah yang memiliki kepentingan praktis bagi satu orang atau lebih. Pengambilan keputusan terjadi dengan sarana koleksi analisis, integrasi dan laporan penuh pertimbangan atas data perilaku yang relevan pada pusat proses penafsiran psikologis terdapat rangkaian berkelanjutan dari pembentukan hipotesis dan pengujian hipotesis mengenai kasus individu.
Tiap butir informasi--entah itu merupakan peristiwa yang tercatat dalam sejarah kasus, komentar oleh klien, entah skor tes-- menunjukan hipotesis tentang individu yang akan dikonfimasi atau ditolak ketika fakta lain sudah berhasil dikumpulkan. Sehubungan dengan ini juga perlulah diingat bahwa sumber data tunggal manapun, tak peduli betapa kelihatan kuatnya, kadang-kadang bisa menghasilkan yang tidak akurat. 


Sumber:
Annastasi. A & Urbina. S. Tes Psikologi, Edisi keTujuh.
http://id.wikipedia.org/wiki/Interpretasi
http://nahankuliah2010.files.wordpress.com
 


Observasi



Observasi berasal dan bahasa Latin yang berarti ”melihat” dan “memperhatikan”. Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut. Observasi menjadi bagian dalam penelitian berbagai disiplin ilmu, baik ilmu eksakta maupun ilmu-ilmu sosial, Observasi dapat berlangsung dalam konteks laboratoriurn(experimental) maupun konteks alamiah.

Ada pula tujuan dari Observasi itu sendiri, yakni:

  1. Mendeskripsikan seting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas dan makna kejadian yang dilihat dari perspektif mereka yang terlibat dalam kejadian yang diamati.
  2. Untuk keperluan assessment awal dilakukan di luar konseling, misalnya: ruang tunggu, kelas, halaman
  3. Sebagai dasar/titik awal dari kemajuan klien. Dari beberapa kali pertemuan psikolog akan mengetahui kemajuan klien.
  4. Bagi anak-anak, untuk mengetahui perkembangan anak-anak pada tahap tertentu
  5. Digunakan dalam memberi laporan pada orang tua, guru, dokter,dll
  6. Sebagai informasi status anak/ remaja di sekolah untuk keperluan bimbingan dan konseling

KELEBIHAN OBSERVASI

  1. Pengamat mempunyai kemungkinan untuk langsung mencatat hal-hal, perilaku pertumbuhan, dan sebagainya, sewaktu kejadian tersebut masih berlaku, atau sewaktu perilaku sedang terjadi sehingga pengamat tidak menggantungkan data-data dari ingatan seseorang.
  2. Pengamatan dapat memperoleh data dan subjek, baik dengan berkomunikasi verbal ataupun tidak, misalnya dalam melakukan penelitian. Sering subjek tidak mau berkomunikasi secara verbal dengan peneliti karena takut, tidak punya waktu atau enggan. Namun, hal ini dapat diatasi dengan adanya pengamatan (observasi) langsung.


KELEMAHAN OBSERVASI

  1. Memerlukan waktu yang relatif lama untuk memperoleh pengamatan langsung terhadap satu kejadian, misalnya adat penguburan suku Toraja dalam peristiwa ritual kematian, maka seorang peneliti harus menunggu adanya upacara adat tersebut.
  2. Pengamat biasanya tidak dapat melakukan terhadap suatu fenomena yang berlangsung lama, contohnya kita ingin mengamati fenomena perubahan suatu masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern, akan sulit atau tidak mungkin dilakukan.
  3. Adanya kegiatan-kegiatan yang tidak mungkin diamati, misalnya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya pribadi, seperti kita ingin mengetahui perilaku anak saat orang tua sedang bertengkar, kita tidak mungkin melakukan pengamatan langsung terhadap konflik keluarga tersebut karena kurang jelas. 
Sumber:
http://walangkopo99.blogspot.com/2011/04/kelebihan-dan-kelemahan-observasi.html
http://mastarmudi.blogspot.com/2010/07/pengertian-observasi.html
 



Wawancara

Metode ini awalnya cukup sederhana. Wawancara adalah tanya jawab antara si pemeriksa dan orang yang diperiksa(Klien untuk psikologi klinik, responden untuk narasumber untuk peneliti, atau calon pegawai bagi psikolog perusahaan). Maksudnya adalah agar orang yang diperiksa itu mengemukakan isi hatinya, pandangan-pandangannya, pendapatnya dan lain-lain sedemikian rupa sehingga pewawancara dapat menggali semua informasi yang diperlukan. Pada kasus penelitian kualitatif, wawancara menjadi alat bantu dar metode observasi(Koentjaraningrat, 1977) wawancara yang baik memerlukan latihan yang banyak karena tidak mudah unruk membuka pintu hati seseorang dalam waktu singkat yang tersedia.
Ada beberapa teknik wawancara, yaitu:
  1. Wawancara Bebas, pertanyaan dan jawaban diberikan sebebas-bebasnya oleh pewawancara maupun yang diwawancara. Teknik ini digunakan misalnya dalam pskoterapi dan dikenal dengan asosiasi bebas(Free Asosiation), yang diperkenalkan oleh tokoh Psikoanalisis Sigmund Freud.
  2. Wawancara Terarah, dalam hal ini ada beberapa pokok yang harus diikuti pewawancara dalam mengadakan wawancara.
  3. Wawancara Terbuka, pertanyaan-pertanyaan yang sudah ditentukan sebelumnya, tetapi jawaban yang diberikan bebas, tidak terikat.
  4. Wawancara Tertutup, pertanyaan-peranyaan sudah ditentukan sebelumnya dan kemungkinan-kemungkinan jawaban juga sudah disediakan sehingga orang yang diperiksa tinggal memilih antara kemungkinan-kemungkinan jawaban itu, misalnya antara "ya" atau "tidak"atau antara "sangat setuju" dan "tidak setuju".
Dalam hal bentuk, wawancara bisa berbeda dari yang bentuk amat terstruktur(Mewakili bentuk yang lebih dekat  dengan kuesioner lisan), sampai wawancara berpola atau tertuntun mencakup bidang-bidang yang telah ditentukan sebelumnya, dan juga wawancara yang tidak terarah serta mendalam dimana wawancara terstruktur untuk maksud klinis dan riset pada bidang diagnosis psikiatris , sekarang sudah lazim dilakukan.  Instrumen-instrumen ini terstandarisasi dan umumnya memberikan skor kualitatif disamping klasifikasi diagnostik; dengan demikian, instrumen-instrumen ini dievaluasi  dengan standart psikometris yang sam dengan reliabilitas dan validitas yang berlaku unruk semua tes. untuk tinjauan atas protokol wawancara terstruktur, lihat Hodges dan Zeman(1993), Kamphaus dan Frick(1996, Bab 12), serta Rogers.

Fungsi Wawancara:
  1. Wawancara memberikan kesempatan untuk mengarahkan observasi atau sampel perilaku terbatas yang muncul selama wawancara itu sendiri.
  2. Memunculkan data riwayat hidup.
Pada wawancara membutuhkan keterampilan dalam mengumpulkan data dan menginterprestasikan data. Wawancara bisa melibatkan keputusan yang salah karena informasi yang penting tidak dimunculkan atau karena data yang diberikan tidak diinterpretasikan dengan memadai atau tepat. Kualifikasi kritis seorang pewawancara yang berhasil adalah kepekaan dalam mengidentifikasi isyarat-isyarat pada perilaku orang yang diwawancarai atau fakta yang ia laporkan. Isyarat-isyarat semacam tu membimbing kearah penyelidikan lebih jauh atas fakta-fakta lain yang mungkin mendukung atau menyangkal hipotesis semula.

Sumber:
Sarwono. S.W, 2010. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers.
Anastasi. A & Urbina. S. Tes Psikologi, Edisi keTujuh.
 

Sabtu, 31 Mei 2014

Analisis Film (se7en)

Sinopsis: William Somerset (Morgan Freeman), seorang spesialis kasus pembunuhan  yang akan pensiun satu minggu lagi. Wajah Somerset terlihat lelah. Tapi Somerset harus menunggu pensiun untuk satu kasus terakhir, dimana ia bekerja sama dengan jagoan muda David Mills (Brad Pitt), detektif yang akan menggantikan Somersat. Mills berbicara dengan istrinya, Tracy (Gwyneth Paltrow), untuk pindah ke kota besar sehingga ia dapat menangani kasus-kasus penting, tetapi kasus ini dimana merupakan kasus pertama bagi Mills dan yang terakhir bagi Somerset  bukanlah kasus biasa. Pembunuhan berantai yang mengerikan, dimana korban dipilih untuk mewakili tujuh dosa yang mematikan. Pertama, seorang pria gemuk yang dipaksa untuk makan sampai pecah perutnya untuk mewakili kerakusan, dan yang kedua seorang pengacara kaya dibuat untuk memotong setengah kilogram daging sebagai penebusan dosa untuk keserakahan. Somerset awalnya menolak mengambil alih kasus ini, karena menyadari bahwa akan ada lima pembunuhan lagi, khotbah mengerikan tentang Nafsu,Kemalasan, Kesombongan, Amarah, dan Iri hati yang disampaikan oleh "orang gila" kepada dunia yang berdosa. Namun sesuatu dalam dirinya tidak bisa membiarkan begitu saja kasus ini, bersama Mills, Somerset menghadapi kasus yang sangat mengerikan ini.


Definisi Psikopat: Seseorang yang dapat memutarbalikan/ menyembunyikan fakta, alibi dan tidak mempunyai rasa bersalah/ malu atau tidak mempunyai penyesalan sama sekali atas perilaku merugikan yang dilakukan oleh dirinya, terkesan cerdik, smart(pintar), pandai mengelak, manipulatif dan jago beragumentasi melalui artikulasi berbahasa saat melakukan suatu kejahatan yang sempurna dalam bentuk pembunuhan fisik atau psikologis.

Ciri-ciri Psikopat:
  1. Persuasif dan memesona di luar.
  2. Menghargai diri yang berlebihan.
  3. Butuh stimulasi atau gampang bosan.
  4. Pembohong yang patologis.
  5. Menipu dan Manipulatif.
  6. Kurang rasa bersalah dan dosa.
  7. Emosi dangkal.
  8. Kasar dan Kurang empati.
  9. Hidup seperti parasit.
  10. Buruknya pengendalian perilaku.
  11. Longgarnya perilaku seksual.
  12. Masalah perilaku dini(sebelum usia 13 tahun).
  13. Tidak punya tujuan jangka panjang yang realistis.
  14. Impulsif.
  15. Tidak bertanggung jawab atas kewajiban.
  16. Tidak bertanggung jawab atas tindakan sendiri.
  17. Pernikahan jangka pendek yang berulang.
  18. Kenakalan remaja.
  19. Melanggar norma.
  20. Keragaman kriminal.
Analisis: John Doe divonis sebagai seorang psikopat setelah melakukan pembunuhan berantai terhadap 6 orang. Dalam pembunuhan yang dilakukan oleh John Doe selalu meninggalkan pesan yang mengandung misteri diantaranya: Gluttony, Greed, Sloth, Envy, Wrath, Pride, Lust. Ciri-ciri yang terlihat dari John Doe di film seperti:
  1. Melakukan tindakan kriminal hingga menewaskan 6 korban
  2. Tidak memiliki rasa bersalah dan dosa dengan cara melakukan pembunuhan berantai.
  3. Tidak memiliki tujuan jangka panjang yang realistis: membunuh untuk memberi contoh kepada orang lain untuk mengurangi orang-orang yang berdosa di dunia.
  4. Kasar dan kurang empati terlihat dari cara pembunuhannya yang bersifat sadis dan terkesan arogan.
  5. Menghargai diri secara berlebihan, dia tidak mengakui bahwa dirinya bersalah telah melakukan pembunuhan berantai.
  6. Buruknya pengendalian perilaku dengan melampiaskan amarah emosinya melalui pembunuhan yang dilakukan.
  7. Menipu dan manipulatif saat membuat David Mills mengikuti kemauannya untuk membunuh dirinya agar menuntaskan misinya.
  8. Memesona di luar, orang yang tidak mengetahui karakter asli John Doe berfikir seolah ia baik seperti yang dikatakan olehpencetak foto.
  9. Melanggar norma  dengan caranya melakukan pembunuhan.

Minggu, 04 Mei 2014

Personality

Personality, sudah bukan merupakan kata yang asing bagi mahasiswa Psikologi khususnya, tapi hanya segelintir yang dapat memahami kata tersebut. Personality, berasal dari bahasa Latin, yaitu "Persona" artinya "Topeng". Topeng sering kali dipakai dalam pementasan teater untuk menunjukkan karakter tokoh yang dimainkan. Personality(Kepribadian) sebuah konsep kata yang sukar dimengerti dalam psikologi, meskipun istilah ini sering digunakan setiap hari. Bukan saja di kalangan Psikologi, tetapi pada juga pada kalangan awam. Dalam Psikologi ada banyak tokoh, salah satunya Gordon W. Allport tokoh Psikologi Kepribadian. Definisi Kepribadian menurut Gordon W. Allport adalah "Organisasi dinamis dalam diri individu yang terdiri dari sistem-sistem psiko-fisik yang menentukan cara penyesuaian diri yang unik(khusus) dari individu tersebut terhadap lingkungannya".
Kata kunci dari definisi Allport di atas adalah;
  1. Sistem Psikis(Pikiran, Perasaan, Motivasi, Minat, dan sebagainya) dan Sistem Fisik(Tinggi Badan, Warna Kulit, Sistem Syaraf, Pencernaan, Kacamata, Jerawat, Gemuk/Kurus, dan lain-lain).
  2. Organisasi dinamis yang menggabungkan semua sistem psiko-fisik tadi dalam suatu proses kerja yang kait-mengait dan terus berubah dari waktu ke waktu sebagai upaya.
  3. Penyesuaian diri individu tersebut terhadap lingkungannya.
  4. Secara unik(Khas, tidak sam dengan individu lainnya).
Pengalaman-pengalaman umum maupun khusus memberi pengaruh yang berbeda-beda pada masing-masing individu. Individu itu pun merencanakan pengalaman-pengalaman tersebut secara berbeda-beda pula, sampai akhirnya ia membentuk dalam dirinya suatu kepribadian yang tetap(permanen).
Kepribadian seseorang diekspresikan kedalam beberapa karakteristik, sehingga dengan memahami karakteristik-karakteristik tersebut, kita dapat mengerti pula kepribadian orang yang bersangkutan. Seperti;
  1. Penampilan Fisik.
  2. Temperamen.
  3. Kecerdasan dan Kemampuan.
  4. Arah minat dan Pandangan menegenai nilai-nilai.
  5. Sikap Sosial.
  6. Kecenderungan dalam motivasi.
  7. Cara pembawaan diri.
  8. Kecenderungan Patologis.
Sekalipun kepribadian itu unik, yaitu berbeda pada tiap-tiap orang, tetapi ada pakar psikologi yang tetap berusaha menggolongkan Kepribadian dalam beberapa jenis. Penggolongan menurut Ernst Kretschmer didasari pada ciri-ciri fisik dan berorientasi pada penyakit-penyakit kejiwaan. Ada tiga macam tipe, yaitu:
  1. Tipe Asthenis: Bertubuh kurus, Jangkung, mempunyai temperamen yang mirip dengan penderita Skizofrenia.
  2. Tipe Atletis: Betubuh tegap, seperti olahragawan, mempunyai temperamen yang mirip dengan penderita Epilepsi.
  3. Tipe Piknis: Gemuk, pendek, bertemperamen mirip dengan penderita manis-dpresif.
Penggolongan Yunani Kuno menurut Hipokrates:
  1. Tipe Snguinis: Sangat periang, dipengaruhi sebagaian besar oleh darah.
  2. Tipe Phlegmatik: Lamban, tak bersemangat, yang paling berpengaruh pada kelenjar ludah.
  3. Tipe Melankolik: Sedih, murung, banyak dipengaruhi oleh empedu hitam.
  4. Tipe Kholerik: Pemarah, cepat bereaksi, banyak dipengaruhin oleh empedu kuning.

 Tipologi yang lebih modern, dilakukan oleh Carl Gustav Jung, yang mendasarkan penggolongannya pada prilaku atau karakteristik psikologis saja, yaitu:
  1. Tipe Introvert: Kepribadian yang cenderung untuk menarik diri dan menyendiri, terutama dalam kondisi emosional, sedang menghadapi masalah atau konflik.
  2. Tipe Ekstrovert: Individu dalam keadaan tertekan justru akan menggabungkan diri dengan orang banyak sehingga bebannya berkurang.
  3. Tipe Ambivert: Individu yang tidak termasuk Introvert maupun Ekstrovet.

Macam-macam Alat Tes Kepribadian:

  • Tes Proyeksi
Pengungkapan aspek psikologis manusia dengan menggunakan alat proyeksi. Tes ini berdasar pada eksternalisasi aspek-aspek psikis terutama aspek-aspek ketidaksadaran ke dalam suatu stimulasi/rangsangan yang kurang atau tidak berstruktur yang sifatnya ambigious agar dapat memancing berbagai alternatif jawaban tanpa dibatasi apapun.

Macam-macam Tes Proyeksi
a. Associative Techniques(Subjek menjawab stimulus dengan perkataan, image, atau ide-ide yang pertama kali muncul).
b. Construction Procedures(Subjek mengkontruksi atau membuat suatu produk).
c. Completion Task(Melengkapi kalimat atau cerita yang sudah disediakan sebelumnya),
d. Choice or Ordering Devices(Mengatur kembali gambar, mencatat referensi).
e. Expresive Methods(Gambar, cara menyelesaikan sesuatu dievaluasi).

Fungsi
Untuk mengungkap keadaan psikologis bawah sadar manusia yang selama ini di repres ke alam bawah sadar.

Kelebihan
-Dapat mengungkap hal-hal dibawah sadar untuk keperluan klinis
-Dapat menurunkan ketegangan
-Bersifat ekonomis

Kekurangan
-Validitas dan Reabilitasnya rendah
-Tester harus memiliki keterampilan yang khusus untuk dapat menggunakan tes ini dalam kaitannya    dengan ketepatan melakukan diagnosa.

  • Inventori
Tes yang menggambarkan karakteristik individu dengan tujuan agar individu dapat mengenal dan memahami dirinya sendiri dengan gambaran atau penjelasan yang objektif dan terukur.

Macam-macam tes inventori
MMPI(Minnesota Personality Inventory)
CPI(California Psychological Inventory)
PIC(Personality Inventory for Children)
MCMI(Millon Clinical Multiaxial Inventory)
16 PF(Sixteen Personality Factor Quesionnaire)
EPPS(Edward Perssonal Preference Schedule)
PRF(Personality Research Form)
Jackson Personality Inventory
TAT(Thematic Apperception Test)

Kelemahan
-Itemnya ambigu dan perintah tidak jelas
-Subjek ingin menunjukan kesan-kesan tertentu kepada penguji
-Kesukaran semantik, Penafsiran yang berbeda
-Sikap subjek yang kooperatif/defensif
-Faking atau tidak jujur
-Acquiscence; bila item yang dibuat lebih megarah ke jawaban-jawaban tertentu

  • MBTI
Dirancang untuk menolong anda untuk memahami dengan lebih baik minat dan gaya pengambilan keputusan anda.

Fungsi
Membantu untuk mengenali rangkaian pilihan atau preferensi anda.

Tes MBTI
Menentutkan individu Ekstrovet atau Introvet.




Sumber:
Pengantar Psikologi Umum, Sarlito W. Sarwono
http://www.psychologymania.com/2011/07/tes-proyeksi-latar-belakang-klasifikasi.html
http://www.slideshare.net/fcrusoedefoe/tes-kepribadian-28655820
http://ekoapriantonosby.blogspot.com/2009/02/alat-tes-mbti.html

Pembahasan UTS Psikodiagnostik 1

Psikodiagnostik --> Cara untuk mendiagnosa, mencari masalah dan menyelesaikan masalah dengan treatmen-treatmen yang tepat. Psikodiaknostik sendiri sangat berperan penting dalam psikologi, dan memilki hubungan yang saling berkaitan dengan ilmu psikologi dan cabang-cabang ilmu pskologi sendiri, seperti; Ilmu Statistik, Metodologi Penelitian, dan Psikometri. Psikodiagnostik tidak ada sangkut pautnya dengan kedokteran, karena kedokteran mempelajari tentang fisik sedangkan Psikodiagnostik cara mendiagnostik dari tingkah laku individu. Psikodiagnostik sendiri memiliki manfaat, yakni; Klasifikasi(mampu menganalisa aspek-aspek suatu masalah); Diskripsi(mampu menggambarkan aspek-aspek suatu masalah); Predict(mampu memprediksi aspek-aspek suatu masalah).

Beberapa tes yang berhubungan dengan Psikodiagnostik:
  • Tes Mental Ability--> Untuk menyelesaikan masalah, berfikir, dan bernalar.
  • Tes Mental--> Seberapa baik seseorang bisa menggunakan kemampuan yang dimilikinya.
Aptitude: Kemampuan tertentu yang dapat menghasilkan keterampilan dari individu itu sendiri(bakat yang dimiliki seseorang).
Atitude: Tingkah laku individu.
Personality: organisasi dinamis dalam dir individu yang terdiri dari sistem-sistem psiko-fisik yang menentukan cara penyesuaian diri yang unik(khusus) dari individu tersebut terhadap lingkungannya.
Validitas: Dapat mengukur apa yang diukur.
Reliabilitas: Dapat diujikan kembali.
Norma: Bagaimana membandingkan kelompok 1 dan kelompok lain.

Sikap bukan merupakan tingkah laku, namun sikap gabungan pengalaman+value.
Perilaku yang dilakukan terus-menerus akan membentuk suatu Habit, Habit membentuk Trait, dan Trait membentuk Tipe.

Sumber: Diskusi Pembahasan UTS Psikodiagnostik 1, 29 April 2014, di Ruang 408, Pukul 13.00 - 14.30 WIB.


Sabtu, 05 April 2014

Psikodiagnostik #6

Tes untuk Populasi Khusus

Tes-tes ini dikembangkan, terutama untuk digunakan pada orang-orang yang tidak bisa diuji dengan cara biasa atau secar memadai dengan intrumen tradisional, misalnya skala-skala individual atau tes-tes kelompok khusus. secara historis, jenis-jenis tes yang disurvei pada bab ini disebut sebagai Tes Kinerja, Tes Nonbahasa, dan Tes Nonverbal.
  • Tes Kinerja--> melibatkan manipulasi objek dengan penggunaan minimal kertas dan pensil.
  • Tes Nonbahasa--> tidak membutuhkan bahasa pada pihak penguji.
  • Tes Nonverbal--> kebanyakan, tes untuk sekolah dasar dan anak-anak pra sekolah masuk dalam kategori ini, demikian pula tes untuk buta huruf dan non pembaca pada tingkat usia mana pun.
Pengetesan Bayi dan Anak-anak Prasekolah

Latar Belakang: Salah satu dari usaha sistematik paling awal untuk memahami perkembangan anak-anak bayi normal dan rasekolah dibuat dalam rangkaian studi Longitudinal oleh Arnold Gesell dan rekan-rekannya di Yale (Ames, 1989).

Tes-tes yang di bakukan untuk perkembangan masa kanak-kanak awal. 

Skala-skala Bayley untuk perkembangan bayi. Tes yang tersusun dengan amat baik untuk tingkat usia paling dini. Dengan memasukkan sejumlah soal dari jadwal gesell dan tes-tes bayi dan anak prasekolah lainnya, skala-skala ini-- yang aslinya diterbitkan pada tahun 1969, mewakili produk akhir dari bertahun-tahun penelitian oleh Bayley dan rekan-rekan kerjanya. Skala Bayley II memberikan tiga alat komplementer untuk menilai status perkembangan anak di antara umur 1 bulan dan 3 1/2tahun: Mental Scale, Motor Scale, dan Behavior Rating Scale.
  • Scala Mental--> Mengambil sampel, misalnya ketajaman sensorik dan perseptual, memori, proses belajar, pemecahan masalah, vokalisasi, permulaan verbal, dan pemikiran abstrak yang mendasar.
  • Skala Motor--> Melakukan pengukuran kemampuan motorik yang besar , misalnya duduk, berdiri, berjalan, dan menaiki tangga, seperti halnya juga keterampilan manipulasi tangan dan jari; soal-soal yang menilai integrasi sensorik dan perseptual-motorik juga termasuk disini.
  • Skala Peringkat--> Perilaku dirancang untuk menaksir berbagai aspek perkembangan kepribadian, seperti perilaku emosional dan sosialm rentang dan pembangkitan perhatian, ketentuan, dan keterarahan pada sasaran.

Skala-skala McCarthy untuk Kemampuan Anak-anak. Pada tingkat prasekolah, instrumen yang tersusun dengan baik adalah McCharty Scales of Children's Abilities(MSCA--McCarthy, 1972), yang sesuai bagi anak-anak berumur 2 1/2 dan 8 1/2 tahun. Skala ini terdiri dari 18 tes, memberi penguji banyak peluang untuk mengamati pendekatan seorang anak  terhadap berbagai masalah dan stimuli. Tes-tes ini dikelompokkan ke dalam enam skala yang tumpang-tindih: Verbal, Kinerja-Perseptual, Kuantitatif, Kognitif Umum, Memori , dan Motor.

Skala-skala Piagetian. Perkembangan teori-teori Jean Piaget yang sejauh ini diterapkan kebanyakan dalam masa kanak-kanak awal. Semua skala seperti ini ada dalam bentuk eksperimental; beberapa tersedia komersal. Kebanyakan telah dikembangkan untuk digunakan dalam progam riset peneliti itu sendiri, meskipun sejumlah skala ini tersedia bagi peneliti-peneliti lainnya. Tugas-tugas Piagetian berfokus pada perkembangan jangka panjang dari konsep -konsep tertentu atau skemata kognitif dan bukan pada sifat yang luas. Objek utama dari skala-skala Piagetian adalah mendapatkan penjelasan anak untuk peristiwa yang diamati dan alasan-alasan yang mendasari penjelasannya. Cara ini juga menarik perhatian para pendidik karena memungkinkan integrasi antara pengetesan dan pengajaran. Tes itu sendiri bisa di klasifikasikan  ke dalam dua kategori:
  1. Skala-skala Ordinal untuk bayi.
  2. Tugas-tugas yang dirancang untuk menilai pencapaian tahap-tahap pra operasional, konkret operasional, dan formal operasional.
Ordinal Scales of Psychological Development dipersiapkan oleh Uzgiris dan Hunt (1975) dan juga dikenal sebagi Infan Psychological Development Scale. Rangkaian ini mencakup enam skala, yang dinamakan sebagi berikut:
  1. Permanensi Objek.
  2. Perkembangan Saran.
  3. Imitasi.
  4. Kausalitas Operational.
  5. Hubungan-hubungan Objek dalam Ruangan.
  6. Perkembangan Skemata.
 Penaksiran Komprehensif atas orang-orang yang Terbelakang Mental.
Menyusul berlakunya Education for All Handicapped Children Act of 1975 (P.L. 94-142)-- sekarang diubah menjadi Individuals with Disabilities Education Act (IDEA)-- dan status yang terkait. Implementasi peraturan ini membutuhkan empat prosedur dasar:
  1. Semua anak penyadang cacat harus diidentifikasi melalui instrumen penyaringan pendahuluan.
  2. Anak-anak yang diidentifikasi harus dievaluasi oleh sebuah tim spesialis untuk menentukan kebutuhan pendidikan tiap anak.
  3. Sekolah harus mengembangkan progam pendidikan yang sesuai dengan masing-masing individu untuk memenuhi kebutuhan ini.
  4. Tiap anak harus dievaluasi -ulang secara periodik sepanjang progam itu.
Mengetes Penyandang Cacat Jasmani

Kerusakan Pendengaran. Pengetesan anak-anak TunaRungu  adalah sasaran primer dalam pengembangan skala kinerja paling awal, seperti Pintner-Patterson Performance Scale dan Arthur Performance Sacale.

Kerusakan Penglihatan. Tes-tes lisan bisa dengan mudah digunakan untuk Tunanetra, tetapi tes-tes kinerja tampaknya paling tidak mungkin untuk diterapkan. di samping presentasi lisan yang biasa oleh penguji, teknik-teknik pengetesan lain yang sesuai telah digunakan , misalnya dengan tape recorder. Sejumlah tes seperti Collage Board Scholastic Assessment Test (SAT) juga tersedia dalam format tipe besar atau huruf braille.

Kerusakan Motorik. Orang-orang dengan ketidakmampuan ortopedis bisa memiliki gangguan motorik yang parah sehingga tidak memungkinkan respons lisan ataupun tertulis. 

Pengetesan Multikultural

Mengetes orang dengan latar belakang kultural yang amat berbeda semakin mendapatkan perhatan sejak pertengahan abad ini. Tes-tes diperlukan untuk permanfaatan sumber daya manusia secara maksimum di negara-negara sedang berkembang pada banyak bagian dunia ini. Fasilitas pendidikan yang berkembang cepat di negara-negara ini membutuhkan pengetesan untuk penerimaan ataupun konseling individu.

Instrumen Tradisional yang Khas. Leither International Performance Scale-Revised (Roid & Miller, 1997) adalah tes kinerja yang diselenggarakan secara individual, yang pertama kali diterbtkan pada tahun 1940. Skala Leither dirancang untuk mencakup rentang fungsi yang luas, sama dengan yang ditemukan pada skala-skala verbal. Cakupan ini diperluas dan sekarang meliputi empat domain , yaitu: Penalaran, Visualisasi, Perhatian dan Memori.

Pendekatan pada Pengetesan Lintas-Budaya. Secara teoritis, kita bisa mengidentifikasi tiga pendekatan pada perkembangan tes untuk orang yang dibesarkan dalam budaya atau subkultur yang berbeda , meskipun dalam praktik, sejumlah segi dati tiga pendekatan itu bisa saja dipadukan.Pertama, menyangkut pilihan soal yang umum bagi banyak budaya yang berbeda dan validasi tes yang dhasilkan menurut kriteria lokal dalam banyak budaya yang berbeda. Kedua, mengembangkan tes dalam satu budaya dan menjalankan untuk orang dengan latar budaya yang berbeda. Ketiga, berbagai tes yang berbeda (adaptasi subtansional tes-tes yang ada) bisa dikembangkan ditiap budaya, divalidasikan menurut kriteria lokal dan digunakan hanya dalam budaya sosial.

Penilaian atas Lingkungan. Meskipun pengujian atas tes-tes lintas-budaya tradisional merupakan minat historis dan karenanya memeperkuat pemahaman tentang asal mula dan hakikat tes-tes dewasa ini, kontak yang semakin cepat dengan budaya -budaya lain secara radikal mengubah kebutuhan akan tes-tes semacam itu.


Tes Psikologi Edisi ketujuh ANNE ANASTASI & SUSANA URBINA