Tes Kemampuan Mental
Abad ke-19 merupakan masa kebangkitan minat pada pengobatan
yang lebih manusiawi terhadap orang-orang gilandan mereka yang terbelakang
mental. Sebelum itu orang-orang ini lazimnya diabaikan, dicemooh, bahkan
disiksa. Dengan munculnya kepedulian akan perawatan yang lebih layak bagi
orang-orang yang punya masalah mental, semakin disadari perlunya kriteria untuk
mengidentifikasi dan mengklasifikasi kasus-kasus ini. Perlunya membedakan antara orang gila(Insane) dan orang
terbelakang mental(Mental Retarted). Orang gila menampilkan gangguan-gangguan
emosi yang kadang kala disertai oleh penurunan
daya intelektual dari tingkat yang semula normal; orang terbelakang, mental
pada dasarnya ditandai oleh adanya kerusakan intelektual sejak lahir atau
semasa kecil.
James McKeen Cattell, psikologi Amerika, menduduki tempat
penting dalam perkembangan tes psikologis. Dalam artikel yang ditulis pada
tahun 1890, istilah “Tes Mental” digunakana untuk pertama kalinya dalam literature
psikologi. Artikel ini memaparkan rangkaian tes yang diselenggarakan tiap tahun
bagi para mahasiswa dalam upaya menentukan tingkat intelektual. Tes-tes ini,
yang diselenggarakan secara individu, meliputi ukuran-ukuran kekuatan otot, kecepatan gerakan, sensitivitas terhadap rasa
sakit, ketajaman penglihatan dan pendengaran, pembedaan berat, waktu
reaksi, ingatan, dan sebagainya. Rangkaian tes semacam itu diselenggarakan bagi
anak-anak sekolah, mahasswa, dan berbagai orang dewasa.
Pada Columbian Exposition yang diadakan di Chicago pada
tahun 1893, Jastrow membuka anjungan tempat pengunjung di undang untuk mengikuti
tes sederhana atas prosesproses indriawi , motoric, dan persepsi serta untuk
membandingkan keterampilan mereka dengan norma-norma yang ada(J. Peterson,
1926; Philippe, 1894). Sejumlah rangkaian
tes yang disusun oleh psikolog Amerika pada masa itu cenderung mencakup
fungsi-fungsi yang agak komplek. Kraeplin (1895), yang sangat berminat pada
pemeriksaan klinis atas pasien-pasien psikiatris, mempersiapkan serangkaian
panjang tes-tes untuk mengukur apa yang dianggap sebagai factor-faktor dasar
dalam pencirian individu. Tes-tes ini, yang Cuma memanfaatkan operasi-operasi
aritmatika sederhana, dirancang untuk mengukur dampak latihan, memori, dan
kerentanan terhadap kelelahan dan penurunan perhatian.
Tes Psikologi, Edisi ketujuh, Anne Anastasi, Susana Urbina.
beberapa contoh tes kemampuan mental; Inteligensi, Kemampuan Akademik(TPA), Neurocognitive skill(Alat Kognotif), Motor Skills(Respon terhadap obyek), dan Behavioral and Emotional Function. Selain itu tes kemampuan mental memiliki beberapa kriteria yang harus dipenuhi, ada seperti; standart yang harus dimiliki pada tes kemampuan mental dibeberapa tempat, bsa diuji kembali dengan batas ketentuan(perubahan waktu) Reliabilitas, dan yang terakhir mengukur apa yang di ukur sampel atau populasi(Validity).
BalasHapusInteligensi tidak berpengaruh pada keturunan yang memiliki inteligensi tinggi. dalam faktor keturunan, gen hanya menyumbangkan 20%, sisanya dari lingkungan yang paling berpengaruh.
berikut ada beberapa tokoh yang berpengaruh bagi tes inteligensi/mental:
Alfred Binet, Lewis Terman, William Stren, David Wechsler, Charles Spearman, Goddard